Social Media: Word of Mouth or Mass Media?

Standard

Image and video hosting by TinyPic

Kelas Akademi Berbagi Jakarta kemarin (Kamis, 8 Maret 2012) digelar di Amway Indonesia, Wisma BNI 46, Jakarta. Acara dimulai pukul 19.07 WIB dan dibuka oleh Mba Ainun Chomsun (@pasarsapi) yang merupakan penggagas dari sekolah nonformal kreatif ini. Mba Ainun menjelaskan sedikit tentang rencana workshop di Bogor yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Rencananya workshop ini akan mengundang seluruh kepala sekolah dan relawan ‘sekolah’ Akademi Berbagi yang ada di kota-kota lainnya. Dia meminta dukungan dari para murid AkberJKT yang hadir, setelah itu membuka kelas dan mempersilakan @sheque untuk membawakan materi yang sudah disiapkan.

@sheque membuka kelas malam itu dengan sebuah slide yang bertuliskan “Half the money I spend on advertising is wasted. The trouble is I don’t know which half.” @sheque membuka gagasan bahwa social media sangat berkaitan erat dengan word of mouth dan kini fungsi serta pengaruhnya sama kuatnya dengan media massa. Sebagai ilustrasi, @sheque menceritakan sebuah kisah tentang reunian SMA, di mana ada seorang tokoh utama bernama Ardi yang bertemu kembali dengan teman-teman lamanya. Salah satu cuilan kisah menggambarkan flashback tentang guru yang sering dijahili. Motor sang guru yang bermerk Honda dulu pernah diberi garam oleh salah seorang teman Ardi karena sakit hati akibat diberi nilai jelek. Garam diharapkan bisa membuat motornya tidak berfungsi, sehingga guru tersebut tidak masuk mengajar keesokan harinya. Di luar dugaan, ternyata guru tersebut datang dan motor Honda kesayangannya baik-baik saja. Di sini menunjukkan bahwa  sebuah produk (motor Honda) bisa menjadi mulus dan diterima dengan baik oleh orang lain apabila disampaikan dalam bentuk Word of Mouth (WOM) yang natural.

Di sisi lain, salah seorang teman Ardi yang bernama Mawar tiba-tiba menyeruak kerumunan dan menawarkan bisnis MLM. Keceriaan yang tadinya terasa, seketika menguap begitu Mawar muncul dengan tawaran bisnisnya yang mengganggu. @sheque di sini menunjukkan bahwa WOM menjadi bumerang bila dilakukan secara interrupting.

WOM bukan hanya berlaku secara tatap muka, tapi begitu pula di social media seperti Facebook, Twitter, dll. Karena itu, para penggunanya harus memikirkan baik-baik dampak dari WOM yang disebarkan melalui akun socmed-nya.

Image and video hosting by TinyPic

@sheque menunjukkan beberapa akun twitter populer dan menjelaskan pengaruh mereka dalam membuat konten

Saking hebatnya kekuatan sebuah social media, @sheque mengatakan bahwa kini bukan hanya produser konten saja yang memiliki pengaruh untuk membentuk opini publik. Contohnya, akun-akun Twitter seperti Sherina Munaf, Agnes Monica, Raditya Dika, dan Arief Muhammad si pemilik akun @poconggg pun memiliki pengaruh yang dahsyat. Followers mereka menembus angka jutaan, dan bahkan jumlahnya mengalahkan akun-akun twitter produser konten seperti Kompas, Detikcom, dsb.

“Pengaruh mereka sedemikian besarnya hingga bisa membentuk opini. Masih ingat dengan ‘polteng’ (alias polisi ganteng)? Itu (bisa terekspos) juga karena tweet Sherina,” ujar @sheque.

Jika dulu manusia hanya menjadi konsumen konten, kata pria yang bekerja di bidang advertising itu, kini sudah berbeda masanya karena manusia juga menjadi produsen konten.

“Kalau dulu kita cuma nongkrong di depan TV, nyerap konten doang. Nah, sekarang sebuah tweet pun bisa menjadi konten,” jelasnya.

@sheque menilai dengan kekuatan social media yang sebegitu besarnya, akan sangat sayang bila tidak dipakai untuk menyebarkan WOM yang bermanfaat. WOM yang dimaksud adalah WOM yang memiliki news value dan share value yang kuat, sehingga orang akan secara sukarela membagikan WOM dari sebuah social media kepada para followersnya. Sesuatu yang sangat menarik pasti akan membuat orang dengan sukarela membagikannya kepada orang-orang di sekitarnya.

Untuk menggambarkan penjelasannya itu, @sheque memutar beberapa video studi kasus periklanan yang dibuat oleh brand-brand ternama di luar negeri. Favorit saya malam itu adalah studi kasus dari dua brand bir, yaitu Heineken (Italia) dan Andes (Mendoza, Argentina). Kedua video tersebut menggambarkan betapa WOM dari orang-orang yang terlibat dalam kampanye periklanan di dalamnya merasa senang dan akan terus mengingat brand tersebut. Bahkan testimoni (WOM)  mereka akan menghasilkan efek yang lebih dahsyat daripada iklan konvensional yang sering dilihat orang di berbagai media massa.

Untuk yang penasaran, bisa lihat videonya berikut ini:


Itulah intisari dari kelas #AkberJKT semalam. Semoga berguna bagi Kompasianers yang tidak ikut hadir dalam kelas tersebut. Dan barangkali, kita bisa bertemu di kelas #Akber lainnya ya😀

Image and video hosting by TinyPic

foto bersama @sheque, guru #AkberJKT malam itu, usai acara

13241332071591126281

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s