Selamat Hari Ibu :)

Standard

Ibu bukanlah sosok yang sempurna. Bukan sosok ideal seperti yang banyak ditampilkan iklan-iklan di televisi. Tapi Ibu tetaplah Ibu, seperti apapun sifatnya, bagaimanapun kondisi fisiknya, dia adalah yang paling tepat dan sempurna yang telah dikirimkan Tuhan untuk kita. Karena itu, ucapan syukur kepada Tuhan atas kehadirannya seharusnya jadi hal pertama yang kita lakukan sebagai seorang anak.

Mengucap syukur? Kenapa hal ini menjadi penting?

Sebab kita jauh lebih beruntung bila dibandingkan orang-orang yang bahkan tidak berkesempatan mengenal sosok Ibunya. Entah karena kematian saat melahirkan, perceraian, dan hal-hal tak terduga lainnya.

Kita beruntung karena di pagi hari masih mendengar suara Ibu membangunkan. Entah dengan lembut, dengan nada memaksa, atau sedikit omelan disertai denting piring dan suara ribut televisi mengalun agar anaknya yang pemalas lekas bangun.

Meskipun Ibu sering kali membuat kita malu dengan pilihan bajunya yang tidak up-to-date, dia tidak pernah sekalipun membiarkan kita terlihat memalukan saat mengikuti pawai 17 Agustus, upacara wisuda, dan (bagi yang cukup beruntung) di hari pernikahan.

Ibu memang terkadang suka bikin pusing dengan segudang pertanyaan. Terlebih bila masih saja tidak mengerti penjelasan kita walaupun sudah diterangkan berkali-kali. Tapi kesungguhannya untuk mengerti cara memakai laptop, smartphone, dan gadget yang kita pakai itu semata hanya untuk menyatu dengan apa yang saat ini menjadi kawan akrab kita sehari-hari. Ibu tidak ingin kehadirannya terpinggirkan oleh semua peralatan komunikasi canggih itu. Dia ingin kita tahu bahwa cintanya tidak pernah ketinggalan zaman, apalagi sampai harus ditukar tambah untuk menaikkan gengsi seperti yang kerap kita lakukan pada telepon seluler setiap 1-2 tahun sekali.

Sejak kecil kita diajarkan untuk selalu menghormati Ibu, mematuhi kata-katanya dan mendengarkan nasihatnya. Ibu adalah orang tua yang harus kita jadikan teladan. Namun dengan rendah hati dia mau mengajukan friend request kepada kita lewat akun Facebook yang susah payah dibuatnya dalam keterbatasan pengetahuannya tentang teknologi dan media sosial.

Terkadang kita marah dan kesal bila Ibu tidak mau membelikan kita barang yang kita inginkan. Tapi pernahkah Ibu marah karena kita belum mampu membahagiakannya? Membelikannya rumah? Memberangkatkannya naik haji ke Mekkah atau ziarah religi ke Yerusalem?

Tak sedikit juga yang mengeluh dan menganggap Ibu kampungan, tidak gaul, bahkan mengharapkan sosok wanita lain agar menjadi Ibu pengganti. Tapi tak pernah sedikit pun terucap dari bibir Ibu bahwa dia menginginkan anak lain yang lebih sempurna, sebab dia menerima kita apa adanya.

Syukurlah Ibu terlahir dalam segala ketidaksempurnaannya yang sering kita keluhkan. Sehingga dia bisa menerima dan memahami kita, anaknya, yang penuh dengan kekurangan. Dalam segala keterbatasan dan kekurangajaran kita, tangan Ibu selalu terbuka dan menyambut hangat kita di rumah.

Terlalu banyak kebaikan Ibu yang belum terbalas dan mungkin tak akan pernah sanggup kita balas. Bersyukurlan atas kehadiran Ibu dalam hidup kita. Ingatlah, masih banyak orang lain di dunia ini yang harus kehilangan Ibu dan bahkan tak pernah mengenal sosoknya.

Di hari Ibu nanti tidak perlu membelikan Ibu hadiah mahal untuk menyenangkan hatinya. Peluklah dia dengan tulus dan ucapkan dengan sederhana dan penuh kasih sayang, “Ibu, saya beruntung memilikimu. Maafkan saya karena belum bisa membahagiakanmu.”

Selamat Hari Ibu🙂

*This post was published and became a headline in Kompasiana entitled “Syukurlah, Ibu tidak Sempurna” on Saturday, 17 December 2011. If you are on Kompasiana, too, please add me. Thank you🙂

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s