Serius Membaca…

Standard

Matahari Jakarta menyengat nggak bersahabat. Siapa pun yang memilih keluar rumah, hampir pasti misuh-misuh, kalo nggak dalam hati mungkin lewat twitter. Tapi di tengah terik yang membakar kulit itu, gue terkejut saat melihat sesosok pria, kira-kira umur 30-an, bertubuh dekil dan berpakaian seadanya, tampak serius membaca di bawah pohon tua kering kerontang di dekat halte busway Velodrome, Rawamangun.

Di sampingnya ada tumpukan gelas dan botol plastik bekas air mineral dan kardus-kardus yang sepertinya akan dijual untuk menafkahi keluarganya. Waktu seperti berhenti berputar saat gue melihat si bapak membaca sebuah koran, dia seperti terlarut dalam rangkaian artikel di depan matanya. Mungkin tertarik dengan isu yang ditulis di koran itu atau mungkin juga dia berusaha mencerna isinya.

Apa pun itu, gue merasa salut melihat si bapak pemulung barang bekas itu. Di tengah keterbatasan ekonomi dan mungkin juga akses pendidikan, dia berusaha untuk terus mengetahui berita terbaru. Ada berapa banyak orang yang seperti ini sekarang? Nggak banyak. Apalagi anak-anak muda sekarang. Membaca bukan menjadi suatu hobi. Jangankan koran, mungkin petunjuk pemakaian yang tertera di balik produk-produk pun terlewat saking malasnya. Mungkin satu-satunya hal yang menarik untuk dibaca kebanyakan kalangan muda sekarang adalah timeline twitter yang berisi update status orang-orang yang mereka ikuti.

Kekesalan gue ini bukan tanpa alasan dan sembarang menuduh. Ini gue alami dan lihat sendiri beberapa hari terakhir. Yang terakhir kali gue lihat adalah saat ada sebuah kompetisi yang digelar melalui akun Facebook sebuah maskapai penerbangan. Maskapai itu mengadakan lomba berhadiah jalan-jalan gratis ke luar negeri, tentunya dengan beberapa syarat yang harus dilakukan oleh peserta kompetisi. Tapi bukannya membaca syarat yang tertaut di link yang diberikan, ada banyak Facebooker yang malah menuliskan pertanyaan tentang syarat dan lain sebagainya di wallpost Facebook maskapai itu.

“Caranya gimana nih?”

“Boleh nggak ngirim lebih dari satu kali?”

“Kalau aku ikutan, bisa menang nggak?”

Membacanya saja sudah bikin kesal karena segala syarat dan aturan yang berlaku untuk kompetisi itu sudah ditulis dengan jelas di sana. Heran deh, kenapa orang-orang nggak mau meluangkan waktu sedikit saja hanya untuk membaca. Lagipula, yang butuh itu kan mereka! Seharusnya mereka merasa malu sama bapak pemulung barang bekas di foto ini…

5 responses »

  1. Hahahhahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahah….dr dalem hati bngt tuh ya!!!

    Trs??saya kalo ikutan recruitment,,bisa menang ga?ato,saya blh krm cv 300x ga?atoo,,kalo saya tingginya melebihi 1cm dr kriteria,bisa lolos ga?wuahahahahahahahaha

    • @Silent Reader: hehehe, I know who you are.. Anyway, bloggingnya dilanjutin dong, masa cuma sekali posting aja?

      @Galuh R: Wah, thanks udah mampir ya… hehehe sayang ga ada emot jempol, kalo ada sudah saya kasih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s