Sekelumit Kisah Jurnalis di Hari Pers Nasional

Standard

Saya bukan jurnalis senior, bukan pula pembaca berita televisi yang cantik, pintar dan dikagumi banyak orang. Tapi saya punya sekelumit kisah tentang menjadi seorang jurnalis yang mencoba menemukan makna kebebasan pers.

Banyak narasumber dengan berbagai jenis karakter yang saya temui dan wawancarai. Ada yang bersikap ramah, kooperatif, cerdas menangkap pertanyaan. Tipe-tipe seperti ini pastinya menjadi narsum favorit semua wartawan.

Tapi ada juga tipe nasrum yang (maaf) lemot, mudah tersinggung, eksentrik, pelit bicara dan sejuta hal lainnya yang menyebabkan wartawan ogah dekat-dekat apalagi mewawancarainya.

Saya dan beberapa teman jurnalis lainnya pun pernah mengalami beberapa kejadian tak enak di saat harus mewawancarai narsum. Hal-hal sepele, mulai dari pertanyaan yang dianggap kacangan, dianggap bodoh, sampai tidak mau diwawancarai karena bukan dari media televisi.

Dalam rangka merayakan hari pers nasional, saya ingin membagikan dua cerita singkat tentang pengalaman jurnalis. Satu pengalaman teman dan satu lagi pengalaman saya.

# Menolak Wawancara karena Sentimen Media

Salah seorang teman sesama jurnalis mengalami kejadian tidak enak ini. Waktu itu kami sedang door stop sehabis acara diskusi Polemik Trijaya FM di Warung Daun Cikini Jakarta Pusat. Waktu itu kami sedang menguber Sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum Denny Indrayana yang saat itu menjadi bintang tamu diskusi radio tersebut.

Saat teman saya bertanya pada Denny tentang tudingan Golkar bahwa dia telah melakukan rekayasa dalam kasus Gayus untuk menjatuhkan citra Ical (Ketum Golkar Aburizal Bakrie), dia mendapatkan jawaban yang tidak menyenangkan di depan teman-teman jurnalis lainnya.

Denny: Kamu wartawan dari mana?

Teman saya: Media X, Pak. Jadi bagaimana tanggapannya tentang tudingan Golkar itu?

Denny: Saya tidak mau jawab kalau yang nanya wartawan X, Y dan Z. Kalian selalu memojokkan Satgas dan 90 persen berita tentang Satgas di media kalian itu selalu negatif. Entah ada maksud apa!

***

# Dibilang Bodoh dan Provokatif

Kejadiannya baru hari ini, saya mewawancarai pengamat politik di sebuah universitas ternama berinisial AS. Orangnya cukup eksentrik dan kadang jawaban yang saya dapatkan saat mewawancarai dia tidak terduga.

Hari ini saya meminta pendapatnya tentang pengaruh konflik SARA di Cikeusik dan Temanggung terhadap citra SBY di mata publik. Dan bukannya mendapat jawaban, saya malah mendapat makian, hehehe.

Saya: Pak bagaimana pengaruh kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah di Cikeusik dan terhadap orang Kristen di Temanggung dengan citra SBY? Mengingat ini bukan kekerasan pertama terhadap kaum minoritas agama yang terjadi di era pemerintahan SBY.

AS: Pertanyaan macam apa itu? Kamu mau memojokkan SBY? Kenapa bawa-bawa citra presiden segala? Kamu mau memakzulkan SBY, hah?

Saya: Eh? Saya tidak bilang begitu lho, Pak. Tapi kejadian ini kan bukan hal yang sepele dan yang ingin diketahui bukan soal pemakzulan, tapi soal pengaruhnya buat citra Pak SBY.

AS: Ya itu sama saja! Pasti nanti ujung-ujungnya, kamu akan bertanya, “Lalu kalau citra SBY merosot, bisa dimakzulkan nggak tuh, Pak?” Begitu kan? Saya sudah tahu itu, mestinya kamu sebagai wartawan yang intelek sedikit dong, jangan ngasih pertanyaan yang provokatif. Sekarang ini wartawan sedikit-sedikit pertanyaannya memancing keributan, sedikit-sedikit mau memakzulkan presiden. Kalau tidak begitu tidak laku beritanya. Apa-apaan itu?

Saya: tapi, Pak, maksud saya…

AS: Sudah kamu dengarkan saja. Kamu goblok, saya pinter.

***

Itulah sekelumit cerita tentang menjadi seorang jurnalis. Semoga semakin banyak orang yang berjuang di profesi ini dan mengabarkan berita dan esensi hidup dengan semangat kebebasan pers. Kebebasan yang bertanggung jawab tentunya.

Buat warga Politikana, khususnya teman-teman sesama jurnalis, siapa pun kalian dan dari media apa pun: Selamat Hari Pers Nasional! Tetaplah berjuang dan hadapi semuanya dengan senyuman🙂

*artikel ini juga dimuat di Politikana

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s