Nol

Standard

“Mulai dari nol lagi ya,” begitu katamu.

Tapi segera sesudah itu kau biarkan si miskin kepanasan di balik gerbang istana, menadahkan tangan demi uang Lebaran.

“Mohon maaf lahir dan batin,” begitu tuturmu.

Tapi tak kau hiraukan permohonan sederhana si tua renta untuk menyalam tangan emasmu. Salah sendiri, pikirmu, kau datang terlambat dan aku tak punya waktu lagi.

“Siapa kau? Kau pikir siapa dirimu?” tanya yang terinjak di sudut sana.

“Aku tuanmu,

Aku seribu dan kalian hanya satu,

Jadi jangan coba mengaturku,” katamu sambil tersenyum.

“Mohon maaf lahir dan batin. Kita mulai dari nol lagi ya,” katamu lagi, kali ini di hadapan kamera.

 

[In memoriam Joni Malela (45) a hopeful blind man till the end. Jakarta, 10 September 2010.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s