What a Journalist Must Do

Standard

Jadi wartawan itu ga mudah, apalagi buat orang yang latar belakang kuliahnya bukan dari jurusan jurnalistik, like me for example..

Tapi menjadi lulusan non-jurnalistik ga berarti bikin seseorang ga bisa jadi wartawan.. Di lapangan sendiri, gue malah lebih banyak nemuin wartawan yang latar belakangnya jauh dari ilmu jurnalistik atau komunikasi. And you know what? Wartawan-wartawan non-jurnalistik itu justru jadi senior yang disegani karena skill kewartawanannya diakui sama wartawan lain dan bahkan narasumber..

Okay, so what does it take to be a journalist? Well, ada banyak hal dan semuanya melibatkan proses pembelajaran yang ga sebentar.. Tapi ga ada salahnya gue berbagi sedikit biarpun pengalaman gue ga sebanyak wartawan senior yang gue kenal di lapangan.. Hehehehe🙂

Nah, di postingan ini gue mau berbagi beberapa tips yang harus dipatuhi buat yang mau jadi wartawan.. Tips ini gue tulis berdasarkan pengalaman gue (yang baru 3 bulan) jadi wartawan. Hehehe, check these out!

#1. Know today’s headlines

Kesannya sepele ya, tapi ini penting banget karena setiap pagi seorang wartawan tuh dihadapkan dengan berita baru (entah itu berita follow-up dari berita sebelumnya atau berita peristiwa yang memang baru terjadi semalam atau hari itu juga).

Newspapers Headlines (dok. ttoes.wordpress.com)

Ga lucu aja kan kalo berangkat ke kantor dengan kepala kosong, minimal kita harus taulah hari ini headlines di koran tentang apa sih. Gausah baca beritanya sampe detil banget, cukup baca lead beritanya aja dan dalam waktu 15-30 menit kita udah bisa tau puluhan headlines yang muncul di media massa hari itu..

Buat yang ga sempet ato males baca koran, jangan jadiin itu sebagai alasan untuk ga tau berita apa yang lagi dibahas. Nonton berita di televisi atau browsing lewat hape bisa jadi alternatif yang sangat membantu, lho..

#2. Telat? Haram hukumnya

Meskipun narasumber yang kita tungguin pada umumnya menyebalkan (karena hobi mereka bikin wartawan jamuran karena nunggu kelamaan), datang terlambat ke sebuah venue –entah untuk liputan door stop atau ada undangan konferensi pers dari yang bersangkutan– itu haram hukumnya..

Kenapa haram? Karena kita bisa aja kehilangan momen-momen berharga dimana hal itu ga akan mungkin terulang lagi.

Bayangin gimana nyeselnya wartawan yang telat dateng ke acara peluncuran buku “Membongkar Gurita Cikeas” di Doekoen Coffee, daerah Pancoran tanggal 30 Desember 2009 lalu..
Siapa yang nyangka kalo acara peluncuran buku bisa jadi ajang keributan gara-gara sang penulis, George Aditjondro, memukul mata politisi Partai Demokrat, Ramadhan Pohan, dengan buku yang ditulisnya itu?

George Aditjondro Pukul Ramadhan Pohan dengan Bukunya (dok. yuhendrablog.wordpress.com)

Jadi jangan pernah dateng terlambat karena kita ga pernah tau kapan dan gimana sebuah berita bisa muncul.. It just comes all of a sudden and we never know when it does..

#3. Tahan banting!

Mau jadi wartawan tapi ga tahan banting? Ke laut aja! Hehehehe.. Bukan apa-apa, tapi jadi wartawan itu emang harus tahan banting karena setiap harinya kita ketemu narasumber (narsum) berbeda yang seringkali ga bisa ditebak suasana hatinya lagi gimana..

Makin penting beritanya, makin sulit akses ke narsum, dan (biasanya) makin menjadi-jadi pula tingkah narsum itu.. Coba liat berita2 di televisi, biasanya narsum yang lagi terlibat skandal (korupsi, perselingkuhan, penipuan, dll) bakalan jadi pelit bicara..

Biasanya kita cuma bisa bersabar karena harus wawancara kuasa hukum narsum yang bersangkutan atau malah gigit jari sama sekali kalo pengacaranya juga nolak kasih statement..

Trus apa hubungannya antara level narsum dengan tahan banting? Jelas ada. Tahan banting disini diperluin banget karena makin penting narsum yang mau kita tuju, makin sulit pula perjuangan kita hanya buat ngedapetin satu berita!

Contoh yang gue alamin adalah waktu Rapat Timwas Century di gedung DPR barengan pimpinan tiga institusi penegak hukum: Kejaksaan Agung (Kejagung), Polri, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kebayang dong gimana pentingnya berita rapat di DPR hari itu?

Harapan gue bisa dapet sedikit statement dari ketiga pimpinan institusi itu.. Tapi sayang harapan tinggal harapan karena Hendarman Supandji (Jaksa Agung) dan Bambang Hendarso Danuri (Kapolri) sama sekali ga mau kasih pernyataan sedikitpun diluar ruang rapat DPR..

Bahkan beberapa polisi pengawal BHD memblokir jalan Kapolri itu supaya wartawan ga ngeganggu dia.. Temen gue, Roy (wartawan Tribune News) bahkan diangkat sama pengawalnya Pak Bambang karena dia berada persis di depan sang Kapolri. Diangkat disini maknanya harfiah ya, artinya si Roy bener-bener diangkat dari hadapan Pak Bambang.. Kaya orang ngangkat kardus buat pindahan rumah gitu, lho.. Ehehehe, si Roy emang kurus banget sih..

Sementara gue sendiri? Gue harus mengusap pipi gue yang membentur pintu kaca dan merelakan kaki gue diinjak sampai EMPAT kali sama orang-orang yang berebut keluar..

Nah, ini salah satu contoh tahan banting yang gue maksud.. Liputan itu melelahkan baik fisik maupun mental.. Jadi buat yang ga siap cape mendingan mundur dari awal dan gausah jadi wartawan..

Oke, untuk postingan ini cukup 3 tips aja dulu.. Nanti akan ada tips lain yang gue post menyusul..

Bye for now ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s